Manajemen Proyek
Manajemen Proyek
Pengetahuan
mengenai manajemen proyek dirasa sangat urgen karena tidak hanya agar
mendapatkan investasi proyek yang tepat sasaran dan bermanfaat, tetapi juga
agar memperoleh benefit yang optimal dari proyek yang dibangun baik bagi penggagas,
pemilik, maupun pengguna. Materi pengetahuan mengenai manajemen proyek ini
diantaranya mengenai jenis dan besaran proyek, investasi proyek, penilaian
proyek dan pengelolaan proyek.
Proyek
merupakan suatu rangkaian kegiatan dengan tujuan tertentu dan menggunakan
sumber daya tertentu yang dilakukan dalam waktu relatif terbatas. Proyek muncul
didasari karena adanya masalah yang harus dihadapi, misalnya adanya banjir,
kekeringan, akses terbatas, dan sebagainya. Selain itu proyek juga muncul
karena adanya potensi untuk dikembangkan, misalnya potensi pertambangan,
pabrik, pariwisata, dan lain-lain.
Public Investment project adalah proyek
yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, contohnya
pembangunan jalan dan jembatan. Comercial
investment project adalah proyek yang ditujukan untuk komersil dan mengarah
kepada keuntungan atau inner
profitability analysis, contohnya pembangunan supermarket, pabrik dan
sebagainya.
Suatu
kegiatan proyek diharapkan mencapai target sasaran dan mendatangkan output yang
baik, outcome, benefit dan berdampak bagi masyarakat. Sasaran atau target
adalah hasil/ keluaran yang dihasilkan dari suatu program kegiatan. Output atau
keluaran yaitu barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan
untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. Outcome
atau hasil adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari
kegiatan-kegiatan dalam suatu program. Dan dampak atau impact yaitu segala sesuatu yang mencerminkan bermanfaatnya dari
fungsi kegiatan-kegiatan dalam suatu program.
Siklus
kegiatan dari suatu proyek yang disusun sedemikian rupa dan dilaksanakan tahap
demi tahap secara rinci disebut project
cycles atau project anatomy.
Siklus proyek secara umum terdiri dari : penelaahan awal (reconaisance study), rencana umum/ masterplan yaitu perencanaan umum
yang terintegrasi dari berbagai aspek dan sektor, lalu prefeasibility study, dan feasibility
study atau studi kelayakan yaitu penelitian secara detail dari berbagai
aspek atas kelayakannya suatu proyek. Kemudian setelah itu ada preliminary design atau desain awal,
lalu desain detail, land aquitition atau pengadaan lahan, dan selanjutnya tahap
pembangunan atau construction. Setelah
suatu proyek selesai dibangun, maka masuk pada tahap operasional, contohnya
operasionalnya sebuah pabrik yang telah selesai dibangun, juga terdapat tahap
maintenance atau pemeliharaan dan tahapan pengawasan/ monitoring dan evaluasi.
Secara sederhana siklus proyek ini dapat disingkat menjadi SIDLACOME, yaitu
Survey, Investigation, Design, Land Aquitition, Construction, Operation,
Maintenance, Evaluation.
Untuk
mewujudkan suatu proyek diperlukan adanya investasi baik berupa uang (money), sumberdaya orang (man), material, metode dan mesin (machine). Pada tahapan perencanaan awal,
setelah memperhatikan berbagai pertimbangan aspek sosial dan teknis, maka aspek finansial perlu diperhatikan mengenai
berbagai biaya (cost) yang akan
timbul dari pelaksanaan proyek, antara lain biaya awal (sunk cost), design cost, land aquitition cost, construction cost, biaya penyusutan atau depreciation
cost, interest and liabilty return
cost, administration cost, maintenance cost, dan biaya tak terduga
atau contingencies cost.
Penilaian
suatu proyek dilakukan atas dasar perhitungan dari berbagai kriteria investasi
yang diterapkan, antara lain Benefit Cost
Ratio (BCR) yaitu membandingkan seluruh manfaat/ benefit yang diperoleh
akibat dibangunnya suatu proyek dibandingkan dengan seluruh biaya-biaya yang
dipakai untuk keperluan investasi termasuk investasi tambahannya. Sebagai bahan
analisa biasanya dibandingkan antara sebelum dan sesudah proyek dibangun serta
tanpa dan dengan dibangunnya suatu proyek. Kriteria selanjutnya adalah Net present value, yaitu hasil yang
diperoleh dari pengurangan benefit yang diperoleh tiap tahun selama umur proyek
dikurangi dengan biaya-biaya investasi, perbaikan maupun penggantian yang
dilakukan terhadap proyek yang dihitung berdasarkan nilai sekarang, atau dengan
kata lain yaitu mengurangi nilai benefit sekarang dengan nilai biaya sekarang.
Kriteria berikutnya yaitu Internal Rate
of Return, yaitu tingkat bunga yang menjadikan nilai sekarang dari benefit
yang diharapkan akan diterima sama dengan jumlah dari nilai sekarang dari
pengeluaran investasi. Kriteria ini membandingkan nilai bunga usaha dengan
nilai bunga uang, yang diharapkan hasil usaha akan lebih besar dari inflasi.
Kriteria terakhir adalah Payback Period atau
masa pelunasan, yaitu masa pembayaran kembali yang dihitung dari
benefit-benefit yang diperoleh setiap tahun dikurangi dengan biaya-biaya
investasi yang telah ditanamkan.
Pengelolaan
proyek adalah aktivitas merencanakan (planning, schedulling),
mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengendalikan aktivitas proyek sehingga
sasaran dan tujuan proyek dapat dicapai. Alat kontrol yang digunakan dalam
mengendalikan proyek antara lain : surat perintah mulai kerja, kontrak, jadwal
pelaksanaan / construction schedule (Barchart,
S Kurve, CPM), Rapat Prakonstruksi / Pre
construction meeting, Rencana mutu / Project
Quality plans, Review design, advance payment, buku harian dan
laporan, Show cause meeting (SCM),
pembayaran prestasi pekerjaan, pekerjaan tambah kurang, perpanjangan waktu
pelaksanaan, denda (liquidated damage),
eskalasi, deskalasi, penyelesaian perselisihan kontrak, serah terima pertama
atau provisional hand over (PHO), dan
serah terima akhir atau final hand over (FHO).
Dalam
melakukan penilaian terhadap calon pelaksana sebuah proyek, dilakukan proses
penilaian kualifikasi yaitu proses penilaian kompentensi dan kemampuan usaha
serta pemenuhan persyaratan lainnya yang dipersyaratkan. Metode penilaian
kualifikasi ada dua jenis antara lain metode prakualifikasi yaitu proses
penilaian kualifikasi yang dilakukan sebelum pemasukan penawaran oleh calon
penyedia, dan metode pascakualifikasi yaitu proses penilaian kualifikasi yang
dilakukan setelah pemasukan penawaran oleh calon penyedia. Sedangkan metode
evaluasi yang sering digunakan terhadap penilaian kualifikasi calon penyedia
jasa, yaitu dengan menggunakan metode
sistem gugur untuk pengadaan barang, pekerjaan konstruksi, dan jasa lainnya,
dan metode sistem nilai untuk pengadaan jasa konsultansi.
Manajemen Proyek Konstruksi
Industri
konstruksi menjadi sebuah industri yang vital bagi sebuah bangsa. Konstruksi
adalah industri yang menyokong keterbangunan infrastrukstur, serta industri
manufaktur. Dalam setiap pekerjaan
konstruksi diperlukan keterampilan management
of engineering yang dapat diaplikasikan dalam setiap pekerjaan konstruksi.
Sebuah
pekerjaan konstruksi, yang sering disebut proyek, adalah sebuah identity yang unique, dimana setiap tahap-tahap, metode, dan pelaksanaan di
lapangan memiliki keunikan tersendiri di dalamnya. Pengelolaan sebuah proyek
adalah sebuah ‘seni’ mengelola sumber daya (resources)
yang dimiliki, antara lain sumber daya tenaga, sumber daya material, sumber
daya peralatan, dan sumber daya finansial; dalam setiap tahapan, mulai dari
tahapan perencanaan, pelaksanaan, hingga tahapan pengendalian proyek.
Tahapan
pertama pada pengelelolaan/ manajemen proyek yang dilaksanakan oleh penyedia
jasa konstruksi adalah tahapan perencanaan. Ada beberapa kegiatan yang menjadi
bagian dari tahapan perencanaan proyek, meliputi :
- Mempelajari
dokumen kontrak proyek, spesifikasi, gambar dan dokumen lain yang
menyangkut dengan proyek yang akan dikerjakan
- Melakukan
survey awal di area kerja untuk mengetahui kondisi detail site yang akan
dikerjakan
- Mengamati
dan mengidentifikasi permasalahan yang ada di lingkungan tempat kerja,
baik itu aspek teknis, aspek lingkungan maupun aspek sosial
- Menyusun
metode pelaksanaan proyek, setiap item pekerjaan seperti galian,
pengecoran, finishing dan lain-lain, serta menyusun schedule pelaksanaan
proyek
- Menyusun
kebutuhan sumber daya proyek antara lain :
a.
Kebutuhan dan jadwal pengadaan bahan/material
konstruksi
b.
Kebutuhan dan jadwal pengadaan alat konstruksi
c.
Kebutuhan dan jadwal pengadaan tenaga kerja
konstruksi
d.
Kebutuhan dan jadwal pengadaan Sub Pelaksana
konstruksi
- Membuat
rencana fasilitas lapangan sementara (temporary site facilities)
Tahapan
kedua pada pengelelolaan/ manajemen proyek adalah tahapan pelaksanaan proyek.
Di dalam melaksanakan sebuah proyek, terdapat aspek-aspek yang perlu diperhatikan
yang meliputi dua hal, yaitu Aspek
Teknik dan Aspek Non Teknis.
1.
Aspek Teknik (Technical
Aspect) adalah aspek yang berkenaan dengan teknis kegiatan proyek yang meliputi
:
a.
Lingkup pekerjaan (scope
of work)
Lingkup Pekerjaan merupakan batasan pekerjaan yang dilaksanakan dalam
sebuah proyek. Adapun yang menjadi acuan dalam lingkup pekerjaan yang
dilaksanakan adalah lingkup pekerjaan yang secara jelas dinyatakan di dalam
kontrak. Lingkup pekerjaan ini menjadi dasar dalam memilih metode pelaksanaan pekerjaan
dan mengendalikan biaya kontrak. Setelah mengetahui lingkup pekerjaan yang
dilaksanakan dan tertuang di dalam kontrak, selanjutnya perlu dilakukan
kegiatan-kegiatan dalam rangka merinci/ mendetailkan lingkup pekerjaan yang
dilaksanakan, antara lain volume pekerjaan dan spesifikasi teknis pekerjaan dan
material.
b.
Metode pelaksanaan
pekerjaan (Method of work)
Metode pekerjaan adalah cara bekerja dengan menggunakan segenap sumber
daya yang ada, baik sumber daya tenaga, sumber daya material dan alat untuk
dapat melaksanakan pekerjaan dengan efektif dan efisien. Metode Pelaksanaan
Pekerjaan Proyek yang telah disusun pada
tahapan perencanaan proyek selanjutnya menjadi acuan teknis pekerjaan di site.
Namun demikian, kadangkala terdapat kondisi dimana metode perencanaan yang
telah disusun terkendala pelaksanaannya di lapangan. Oleh karena itu diperlukan
rapat koordinasi secara periodik, baik harian maupun mingguan, untuk
membicarakan metode dan teknis pekerjaan di lapangan sehingga didapatkan metode
pekerjaan yang aplicable dan tentu saja diharapkan lebih efektif dan
efisien dalam pelaksanaannya di site.
c.
Kualitas pekerjaan
(Quality)
Kualitas pekerjaan berkenaan dengan pelaksanaan monitoring dan
pengendalian pekerjaaan agar didapatkan hasil pekerjaan yang bermutu tinggi.
d.
Jadwal Pelaksanaan
Pekerjaan (Schedule),
Jangka waktu pelaksanaan proyek dan pengendalian terhadap
batasan-batasan waktu setiap item pekerjaan.
2.
Aspek Non
Teknis, antara lain aspek manajemen pengelolan proyek, aspek hukum berkaitan
dengan pematuhan terhadap norma hukum yang berlaku, aspek lingkungan yang
berkaitan dengan pengaruh proyek lingkungan, serta mengenai administrasi kontrak, finansial termasuk pajak dan asuransi, serta
aspek sosial
Tahapan
ketiga pada pengelelolaan/ manajemen proyek adalah tahapan pengendalian/
evaluasi proyek yang dilakukan secara periodik bersamaan dengan tahapan
pekerjaan proyek. Tahapan pengendalian ini dilaksanakan dengan tujuan bagaimana
pengelolaan proyek dapat mencapai visi atau target yang telah ditetapkan, yaitu
dapat dipenuhinya schedule pekerjaan, dapat diselesaikannya produk proyek
konstruksi yang bermutu baik, ramah lingkungan, serta dapat diraihnya profit
atau keuntungan.
Sumber :
-
Materi Pelatihan Manajemen Proyek Pusdiklat
Kementerian Pekerjaan Umum di Pekanbaru tanggal 11-15 April 2016
-
Materi Pelatihan Manajemen Proyek Konstruksi PT
Waskita Karya di Jakarta tanggal 25-29 Juni 2012
-
Materi Pelatihan Sertifikasi Pengadaan Barang dan
Jasa oleh LKPP di Pekanbaru tanggal 10-14 Agustus 2015
Keyennn bggg 👍
BalasHapus